Tachineputa: rocket science?

By ggt3 (from : Putra) on 4月. 13, 2017

By ggt3 (from : Putra) on 4月. 13, 2017

With total weight of 19 tons and total height of 23 meters, it is being kept in a building that has a characteristic of a rocket assembly garage, with its tall and large garage door reaching the height of around 25 m and a factory crane. How is it different from rocket science to keep this art, Tachineputa.


Dengan berat total 19 ton, serta tinggi total 23 meter, pameran tersebut disimpan di dalam bangunan dengan karakteristik yang mirip dengan bangunan perakitan roket, termasuk pintu tinggi mencapai 25 m dan mesin derek besar. Bagaimana Tachineputa berbeda dengan ilmu perakitan roket?

img_3042

A view from below/Pandangan dari bawah

img_3052

A view from the front side, on the 5th floor/Pandangan dari depan pada lantai 5

Tachineputa is an art form looks like the cousin Nebuta from Aomori City with different arrangement. Tachineputa is in the form of standing, thus rather than occupying a large area on the ground, it is covering a large area around the top. The floats that placed on the ground has small area but as it increase in height, the area is getting larger, with the main floats placed on top reaching the highest point of 23 m. The total weight of the Tachineputa could reach 19 tons, but the floor can only withstand the weight of 13 tons is able to keep it. How do they do it? Are they disassemble the Tachineputa?


Tachineputa adalah bentuk artistik dan kultur yang mirip dengan saudaranya, Nebuta yang berada di Kota Aomori. Akan tetapi, aransemen pembentukannya sangat berbeda karena Tachineputa berada pada posisi berdiri, sehingga tidak memakai area yang luas seperti Nebuta, akan tetapi lebih kepada volume karena tingginya. Tachineputa berdiri dengan bersanggah pada area yang kecil, dan menjadi lebih besar saat semakin ke atas. Tinggi maksimal yang ada hingga saat ini adalah 23 m, dengan berat total mencapai 19 m. Akan tetapi, lantai pada bangunan yang menyimpan Tachineputa ini cuma bisa menumpu hingga 13 ton, bagaimana cara mereka menyimpannya di sini?

 

Although there is the exhibit in the museum, the 19 tons weight apparently was the weight that is used during the festival because of a large rod made from steel to assemblage all the pieces of Tachineputa, from the lowest point to the highest point. The exhibition has its steel rod removed thus the weight reduced to the amount the floor of the museum is able to withstand.


Meskipun pamerannya berada di dalam musium, beratnya yang mencapai 19 ton ini ternyata hanya berada saat festival Tachineputa berlangsung. Berat ini dikarenakan terdapat sebuah batang baja yang menumpu semua bagian Tachineputa agar tidak terlepas dari masing-masing bagiannya. Berat baja ini sangat besar, dan pada saat pameran, baja ini tidak dipasang sehingga lantai bangunan yang hanya bisa menampung sekitar 13 ton dapat menopang seluruh benda pameran.

 

Its "rocket science" view is not in the weight only, as the paints that are used is include in it. With all the artistic form of the whole assembly of rice paper, the paint used is water proof but it also introduce the illumination of the light inside the exhibit to display the brightest and vivid view of the arts. The artists use combination of paints based on color and water-proof characteristic in order for the Tachineputa to display its maximum color pattern and strength of its painting.


Penampilannya pada frase "ilmu roket" tidak hanya berada di berat benda pamerannya, akan teteapi termasuk di dalam cat yang dipakai untuk menghiasi Tachineputa. Cat-cat ini dibuat oleh para artisnya untuk tahan air serta menunjukkan warna kontras karena Tachineputa menggunakan lampu-lampu bohlam di dalam seluruh bagiannya untuk menunjukkan bentuk artistiknya. Para artis ini menggunakan kombinasi dari cat anti-air, cat air serta "kertas beras" yang dilapisi dengan plastik vynil sehingga menunjukkan warna yang luar biasa dan tahan air.

img_3050

A mini exhibits to show the difference in the paper and paint used between Nebuta and Tachineputa/Pameran mini untuk menunjukkan perbedaan kertas dan warna pada Nebuta dan Tachineputa

Outside of the exhibits themselves, the building of the museum also incorporate the "rocket departure station" concept. As I had said, the building is 6 stories/floors height with high garage door, a 5 ton factory crane including folding bridges and a large assemble space. With its high specification building, the building is look more of a hangar compare to a museum after you enter the main hall.


Di luar dari benda pamerannya, Tachineputa itu sendiri, bangunan tempat pameran ini sendiri menunjukkan kecanggihan dalam "ilmu roket". Saya telah sebutkan bahwa bangunan ini sangat tinggi mencapai lantai 6, termasuk pintu garasi yang sangat tinggi. Selain itu terdapat derek yang bisa mengangkat 5 ton serta jembatan lipat di setiap lantainya dan sebuah ruang luas yang berfungsi sebagai ruang perangkaian. Dengan bangunan seperti ini, lebih mirip sebagai hanggar roket daripada sebuah musium setelah memasukinya.

 

In the museum itself, the people who visit could build a goldfish arrangement from the rice paper, the same material to build the Tachineputa. The goldfish is a form of ornament that typically brought by people to the Tachineputa and Nebuta Festival. It says that this goldfish was a symbol of luck during the festival, and in the past people attach the goldfish on a stick and bring it during the festival. Today, the goldfish is typically hang in houses in the area of the festival.


Di Musium Tachineputa ini, orang-orang yang mengunjungi dapat membuat ornamen ikan emas dari "kertas beras", bahan yang sama untuk membuat Tachineputa. Ornamen ikan emas ini biasanya dibawa orang-orang yang mengunjungi Festival Tachineputa dan Nebuta. Ornamen ikan emas ini merupakan simbol dari keberuntungan di saat festival, dan pada masa lalu, ornamen ini dipasang di atas sebuah tongkat dan dibawa pada saat festival. Saat ini, ornamennya biasanya dipasang di rumah-rumah di daerah yang akan dilalui oleh festival.

img_3032

After drawing the face of goldfish/Setelah menggambar wajah ikannya

img_3034

After finishing coloring the goldfish with blue (blue-fish)/Setelah mewarnai ikan dengan warna biru

 

Recommend Tours

Prune Apple-trees in Snow-shoes! (February)
Sled Down Snowy Mountains Tour! (January)
Japanese ‘Izakaya’ 【Tavern】 Tour (December)
Japanese Confectionery Making! (November)
Apple-picking Tour! (October)
‘Nagashi-somen’ (flowing noodles) Lunch in the Apple-fields (September)
Join the Hirosaki NEPUTA Festival! (August)
Explore Knick-knack Stores and Japanese-Western Architecture Tour! (June)

What might seem like common practice and everyday values to local Japanese people can be new and attractive treasures through the eyes of people from different countries and cultures! There are so many unknown and enticing treasures just waiting to be discovered in Tohoku – come and find them!